Pameran Mata Hati Soekarno, Mengajak Publik Membaca Ulang Sang Proklamator
Menyentuh dan penuh refleksi, “Mata Hati Soekarno” menghadirkan cara baru memandang Bung Karno lewat karya para perupa lintas generasi.
Sosok Bung Karno kembali dihadirkan dengan cara yang berbeda melalui pameran seni rupa bertajuk “Mata Hati Soekarno” di Bantul. Bukan sekadar menampilkan potret sejarah, pameran ini mengajak publik menyelami sisi manusiawi, gagasan, hingga jejak emosional Sang Proklamator melalui sudut pandang para perupa lintas generasi.
Dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, pameran menghadirkan karya seniman angkatan 1970-an hingga 1990-an yang menafsirkan kembali figur Soekarno melalui lukisan, grafis, dan gambar. Para perupa didorong keluar dari narasi sejarah yang klise, sekaligus menawarkan pembacaan yang lebih personal dan reflektif.
Menurut Suwarno, istilah “mata hati” merujuk pada kedalaman pemahaman seniman terhadap Bung Karno sekaligus ketajaman batin mereka dalam memaknai tema kebangsaan. Baginya, Soekarno adalah figur yang tak pernah selesai dibaca dan selalu relevan untuk ditafsirkan ulang.
Lewat pengalaman batin yang beragam—mulai dari rasa kagum, kehilangan, hingga kerinduan—pameran ini menjadi ruang dialog antara sejarah, seni, dan generasi masa kini. Semangat mencintai Indonesia yang diwariskan Bung Karno pun kembali menyala melalui karya-karya yang dipamerkan.
Pameran “Mata Hati Soekarno” dibuka pada 6 Juni 2026 dan berlangsung hingga 6 Juli 2026 di Le Gareca Space, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa warisan pemikiran Bung Karno terus hidup dalam imajinasi dan kreativitas anak bangsa. (agp)

