Views : 258  |
29 Juni 2009 | 19.00-22.00 wib | C2O Library Surabaya
Surabaya dari hari ke hari semakin meneguhkan namanya
sebagai kota niaga yang kalap dan rakus. Hutan beton bertumbuh semakin
rapat. Pusat perbelanjaan menjamur nyaris di semua penjuru kota. Papan
reklame memenuhi setiap ruang kosong dengan senyum-senyum menawan.
Pusat-pusat budaya makin terdesak dan terhimpit. Gerakan budaya pun
menjadi berakan sunyi yang berbisik diantara komunitas-komunitas kecil.
Buku, sebagai tempat menimba kearifan hidup, menjadi satu sisi budaya
yang turut berdesakan dikota niaga ini. Toko-toko buku besar
bermunculan, menawarkan ragam pilihan yang bisa disesuaikan dengan isi
kantong warga kota. Pemerintah kota bak pahlawan buku menyurung
pembangunan kampung ilmu sebagai wadah pedagang buku emperan. Taman
bacaan dan mobil baca keliling mengunjungi beberapa ujung kampung saban
berapa hari sekali. Sudut-sudut baca teronggok wajib di setiap
puskesmas. Dengan semua itu, sudahkah kota ini dan juga warganya,
menjadikan buku sebagai bagian dari budaya yang memagari kearifan hidup
dari gerusan perniagaan?
Diantara keriuhan itu, ada pecinta dan penggila buku yang coba berjalan
di jalan sunyi selaiknya sebuah buku. Mereka adalah penulis-penulis
muda yang coba menerbitkan buku sendiri untuk melawan dominasi penerbit
besar. Mereka adalah pemilik toko buku dan perpustakaan independen yang
tekun menjagai buku-buku dengan beberapa orang pengunjung saja
seharinya. Mereka adalah komunitas pecinta buku yang dengan kesabaran
mendiskusikan buku-buku sebagai refleksi kehidupan meski hanya dengan
anggota yang tak genap sepuluh orang. Mereka adalah aktivis buku yang
tak lelah berteriak tentang pentingnya membaca sekaligus mendekatkan
buku ke pembacanya di kampung-kampung. Mereka-mereka inilah pion-pion
budaya yang menjadikan buku sebagai peneguh semangat menjaga benteng
budaya sebuah kota.
Jalan buku memang sunyi. Sesunyi perjalanan yang dilalui setiap
pecintanya. Tapi semangat dan cita-cita yang mereka usung tak sesunyi
buku. Dengan jalannya masing-masing, mereka melukis wajah Surabaya esok
hari melalui buku-bukunya. Kota ini tentu tak anti buku. Kota ini
pastilah mencintai buku. Maka mari dengarkan suara bisikan mereka
tentang buku di tengah gempita kota industri dan niaga yang makin gila
ini. Yuk, ikutan ngobrol bersama di acara:
Diskusi dan Peluncuran Buku
“Para Penggila Buku:100 Catatan dibalik Buku”
karya Muhidin M Dahlan & Diana AV Sasa
Tanggal: 29 Juni 2009
Waktu: 19:00 - 22:00
Tempat: C2O Library, Jl Dr. Cipto No 20 (depan Konjen AS)
Menghadirkan:
Muhidin M Dahlan (Penulis, pegiat lembaga riset dan penerbitan Indonesia Buku)
Diana AV Sasa (Penulis, Owner Galeri Buku ::dbuku::)
Cathleen Azali (Owner C2O Libarary , Cinemateque ‘n Café)
Arief Santosa (Redaktur Buku Jawa Pos)
Giryadi (Budayawan)
Moderator : Fakhruddin Nasrullah (Sastrawan)
Tersedia Buku-buku dengan harga diskon.
Acara ini didukung sepenuhnya oleh:
Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku(i:boekoe) www.indonesiabuku.com
Galeri Buku ::dbuku::
Komunitas Esok (Emperan Sastra Cok-Cepetan Ojo Keri-)
C2O Libarary , Cinemateque ‘n Café
www.event.web.id
LP. Fajar Timur Recommend this article...
|
|
|
| Users' Comments |
|
Average user rating
(0 vote)
|
|
Add your comment
|