Wednesday , December 13 2017
Home / Festival / Film NYAI resmi membuka Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017
let's share your delicacy with us

Film NYAI resmi membuka Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Yogyakarta (1/12) – Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang ke-12 memutuskan memilih “Fluidity” sebagai tema festival. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pelaksanaan JAFF tahun ini jauh lebih lama yaitu sepanjang 1-8 Desember 2017 di berbagai tempat seperti Taman Budaya Yogyakarta, Cinema XXI dan CGV Cinemas.

Perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival telah resmi dibuka dengan menggelar upacara pembukaan pada 1 Desember 2017 pukul 19.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta. Rangkaian upacara pembukaan ini akan diawali dengan sambutan dari berbagai pihak seperti Budi Irawanto selaku Direktur Festival JAFF, Endah Wahyu (BEKRAF), Choi Yoon (Busan Film Commission), Tsukamoto (Japan Foundation) dan Garin Nugroho selaku pembuat film Nyai.

Sebelum menyaksikan suguhan utama JAFF pada upacara pembukaan, penonton diberi kejutan dengan penampilan video mapping di dalam gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta. Hadir dengan syair macapat Maskumambang, puisi Jawa tersebut diterjemahkan oleh sekelompok seniman muda Jogja dengan latar disiplin seni yang berbeda-beda. Turut hadir dalam penampilan tersebut, Paksi Raras Alit (Penyanyi), Sekar Sari (Penari/Aktris), Raphael Dhony (Motion Director), Dhanak Pembayun (Music Director), dan Banjar Triandaru (Lighting Designer).

Pertunjukan kolaborasi ini adalah salah satu bentuk bagaimana seni itu sangat cair (fluid) sama halnya dengan sinema yang pada perkembangannya adalah hasil dari berbagai disiplin kesenian.
Pada puncak acara, penonton disuguhkan dengan pemutaran film pembuka Nyai karya Garin Nugroho. Film ini menuturkan pergulatan seorang perempuan menghadapi deraan hidup dengan daya tahan yang lentur. Film ini juga mencerminkan betapa sinema memiliki kelenturan dalam bersenyawa degan beragam cabang seni lain seperti tai, tarik suara dan drama serta menunjukkan kemampuan menemukan kebaruannya.

Beberapa program utama JAFF 2017 seperti Program Asian Feature merupakan kompetisi film panjang Asia termasuk Indonesia yang akan merebutkan Golden Hanoman Award, Silver Hanoman Award, NETPAC Award dan Geber Award. Program Light of Asia diperuntukan untuk pemutaran serta kompetisi film pendek Asia, pemenang dalam program ini akan memperoleh penghargaan Blencong Award. Program JAFF-Indonesian Screen Awards hadir sebagai pengembangan dari program JAFF “The Face of Indonesian Cinema”.

Program ini sebagai wujud apresiasi dan penghargaan untuk Film Indonesia, baik itu untuk film panjang maupun film pendek. Program Asian Docs merupakan program kolaborasi dua festival: Festival Film Dokumenter (FFD) & Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Sebuah program untuk melawat Asia melalui berbagai film dokumenter pilihan mengenai Asia. Program Taiwan Docs yang digagas dan dikuratori oleh Gertjan Zuilhof. Taiwan Docs menghadirkan pemutaran 3 film dokumenter Taiwan dan diskusi terkait perkembangan film (dokumenter) di Taiwan.

Program Focus on Joko Anwar menghadirkan enam karya dari Joko Anwar. Salah satu program terbaru yaitu Asian Prespectives merupakan program yang diadakan sebagai wadah bagi berbagai suara mengenai Asia, baik sebagai sebuah wilayah geografis maupun, utamanya, sebagai kelompok dengan corak ekonomi, politik, dan sosial tertentu.

Tidak sekedar menghadirkan program pemutaran film saja, JAFF akan menyediakan ruang untuk insan – insan komunitas film di Nusantara. Interaksi yang hangat bagi berbagai komunitas film di Indonesia ini akan dinaungi oleh program Community Forum. Program Public Lecture kembali hadir sebagai wadah diskusi yang selaras dengan tema. Menghadirkan pembicara – pembicara yang handal pada bidangnya mulai dari pemutaran film, distribusi hingga mengelola riset perfilman akan menambah pengetahuan para penikmat film. Garin Nugroho, Mira Lesmana, Reza Rahadian, Wregas Bhanuteja, hingga Tony Rayn merupakan beberapa nama pembicara yang akan hadir dan membagikan ilmunya.

Ada yang berbeda pada penyelenggaraan JAFF kali ini dengan ditampilkannya program – program baru. Hembusan nafas baru yang menyegarkan akan menambah banyaknya program baru. Jogja Future Project merupakan program kolaborasi JAFF dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Program ini ditujukan untuk 10 proyek film panjang terpilih untuk dapat mengikuti pertemuan one-on-one meeting dengan para pelaku industri film profesional dari Indonesia dan Internasional.

Tercatat pula pada tanggal 30 November 2017, 2500 tiket online telah terjual dan tiket online dari 16 film yang tayang di JAFF terjual habis dalam waktu satu minggu. Penonton masih dapat mengakses pembelian tiket on the spot untuk film-film yang sudah terjual habis secara online. Pembelian tiket dapat dilakukan di masing-masing tempat pemutaran mulai dari satu jam sebelum film diputar. *(ew/yk/agp)

About Redaksi Eventweb

Check Also

Festival Laguna Depok sambut Sumpah Pemuda 28-29 Oktober 2017

Dunia pariwisata saat ini sedang menggelora dan menjadi sorotan publik baik lokal maupun mancanegara. Daerah …